Pupuk Subsidi Sulit Didapat, Petani Keluhkan Harga Tak Masuk Akal

Foto : Ilustrasi.

BONE – INFO-JURNAL.COM Sejumlah petani di Desa Pasempe, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi untuk kebutuhan pertanian mereka.

Kondisi tersebut dinilai mulai memberatkan petani karena selain stok yang sulit diperoleh, harga pupuk juga disebut mengalami kenaikan di tingkat lapangan.

Keluhan itu disampaikan para petani setelah dalam beberapa waktu terakhir mereka kesulitan mendapatkan pupuk subsidi melalui jalur resmi kelompok tani.

Akibatnya, sebagian petani terpaksa mencari pupuk hingga ke kecamatan lain demi memenuhi kebutuhan pertanian mereka.

Salah seorang petani mengaku kesulitan memperoleh pupuk subsidi meski telah berupaya menebus melalui kelompok tani. Bahkan, jika pupuk tersedia, harganya disebut sudah jauh di atas harga yang dianggap wajar oleh petani.

Baca Juga:  “STOP PANIK! Bupati Bone Pastikan Stok BBM Aman, Tidak Ada Kelangkaan, dan Kenaikan Harga, Warga Diminta Tenang"

“Sulit mendapatkan pupuk, biasanya ambilnya melalui kelompok tani,” ujar seorang petani kepada awak media, Kamis (28/5/2026).

Selama ini, petani lebih memilih menebus pupuk bersubsidi melalui kelompok tani karena dinilai lebih mudah dibanding harus mengambil langsung di gudang pengecer resmi.

Terlebih bagi petani yang memiliki keterbatasan transportasi dan akses kendaraan.

Menurutnya, harga pupuk subsidi yang masih dianggap wajar berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp125 ribu per zak dengan sistem terima di lokasi. Namun belakangan, harga pupuk disebut naik hingga mencapai Rp140 ribu per zak.

“Kalau harga Rp120 atau Rp125 ribu masih wajar terima lokasi, tapi kalau Rp140 ribu itu sudah kemahalan,” katanya.

Baca Juga:  Andi Akmal Pasluddin Hadiri HLM TPID–TP2DD Sulsel, Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Digitalisasi Daerah

Ia juga menyoroti dugaan adanya praktik penjualan pupuk dengan sistem pembayaran setelah panen atau biasa disebut “bayar panen”, namun dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding pembayaran tunai.

“Tapi oknum rata-rata tidak mau kalau bayar langsung atau di-kes. Maunya dibayar setelah panen dengan harga sampai Rp180 ribu,” lanjutnya.

Para petani mengaku heran karena di satu sisi pupuk subsidi kerap disebut tidak tersedia, namun di sisi lain ada pihak tertentu yang diduga tetap memiliki stok dan menjualnya dengan harga lebih mahal.

“Kita juga heran oknum-oknum ini dapat pupuk dari mana. Biasanya melalui kelompok tani dibilang stok tidak ada, tapi ada oknum yang punya stok jadi terpaksa dibeli daripada tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Baca Juga:  Paris Yasir Dukung Eliminasi TBC, Pemkab Jeneponto Ikuti Monitoring dan Evaluasi Sulsel

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat turun tangan melakukan pengawasan terhadap distribusi pupuk bersubsidi agar penyalurannya tepat sasaran, stok tersedia bagi petani yang berhak, serta harga tetap sesuai ketentuan sehingga tidak semakin memberatkan petani kecil. (BM) *.

 

Pos terkait