Menjual Langit, Merampok Napas: Ketika Negara Menukar Nurani dengan Jelaga

Oleh Darwis Tahang, SH.,MH.,MM
Pemerhati Hukum dan Sosial

INFO-JURNAL.COM – Kabar tentang Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang membongkar korupsi Dana Siap Pakai di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bukan lagi sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah sebuah pukulan telak yang meruntuhkan sisi kemanusiaan kita. Di saat jutaan rakyat di berbagai pelosok daerah dipaksa bertahan hidup dengan dada yang sesak, menghirup pekatnya kabut asap yang mengepung ruang hidup mereka, para pejabat yang memegang mandat penyelamatan justru sibuk menghitung lembaran uang haram.

Sungguh sebuah kebiadaban yang absolut. Bagaimana mungkin seseorang bisa tidur nyenyak di atas kemewahan yang dibeli dari setiap tarikan napas warga yang sedang sekarat menahan batuk? Kita mungkin lupa, atau sengaja dibuat lupa, bahwa negeri ini dulunya tidak akrab dengan nestapa bernama asap Karhutla.

Baca Juga:  Menyoal Standar Pendidikan Dalam Kepemimpinan

Tengoklah ke belakang, sebelum mesin-mesin eksploitasi datang atas nama pembangunan. Hutan-hutan primer kita berdiri kokoh sebagai kanopi bumi, dan rawa-rawa gambut yang maha luas bekerja dalam diam sebagai kantong air alami. Alam sebenarnya telah menulis takdirnya sendiri: menjaga tanah tetap basah agar api tak punya celah untuk berkuasa.

Namun, keserakahan merombak segalanya. Cara kita mengelola negara hari ini telah bergeser menjadi begitu ekstraktif dan rakus. Rawa-rawa dikeringkan secara paksa, hutan dibabat habis, dan ekosistem diubah menjadi hamparan industri monokultur demi keuntungan jangka pendek. Ketika benteng pertahanan alami itu runtuh, alam mengirim balik tagihannya. Karhutla kini bermutasi menjadi ritual bencana tahunan yang makin meluas. Asapnya menjalar, merambah wilayah-wilayah yang secara historis bersih dari polusi udara, seperti Kabupaten Bone.

Baca Juga:  Membentak Anak di Masjid: Menyembah Kesucian Ritual atau Menuruti Nafsu Egoistik

Wilayah yang dulunya tenang kini terpaksa ikut menanggung pekatnya jelaga sebuah bukti bahwa kelalaian di hulu akan selalu mendistribusikan penderitaan ke hilir.
Di tengah karut-marut ekologis ini, sebuah pertanyaan filosofis sekaligus eksistensial menyeruak, warisan macam apa yang sedang kita siapkan untuk anak cucu kita nanti? Apakah dongeng tentang Indonesia yang zamrud khatulistiwa harus digantikan dengan kenyataan pahit di mana generasi masa depan lahir hanya untuk akrab dengan tabung oksigen dan masker sejak usia dini? Sungguh tragis jika warisan terbesar kita untuk mereka bukanlah tanah yang subur, melainkan langit yang kelabu dan paru-paru yang rusak.

Maka, agaknya kita perlu memberikan ucapan selamat yang paling getir kepada pemerintah. Selamat atas sebuah mahakarya tata kelola yang begitu rapi, izin eksploitasi diobral, alam dirusak hingga memicu bara, rakyat dibiarkan megap -megap, dan anggaran darurat untuk memadamkannya pun habis dikorupsi berjamaah. Pada akhirnya, kita dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa di negeri ini, air mata korban dan hilangnya masa depan anak cucu kita, bisa dengan mudah dikonversi menjadi tumpukan emas batangan di dalam brankas para penguasa. (BM)*.

Baca Juga:  Ketika Rp.10.000. Menghancurkan Masa Depan. Refleksi kegagalan Kebijakan Pendidikan dan Perlindungan Sosial

 

Pos terkait