Buka Festival Lampu’Toae, Wabup Andi Akmal Dorong Pengembangan Wisata Mangrove di Angkue

BONE – INFO-JURNAL.COM – Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya masyarakat pesisir, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata dan ekonomi baru di Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., saat membuka secara resmi Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue, Senin (28/9/2026).

Menurut Andi Akmal, Desa Angkue memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan secara terpadu, mulai dari kawasan mangrove, Kampung Nelayan Merah Putih, pelabuhan hingga kekayaan budaya masyarakat pesisir.

Ia menilai potensi tersebut dapat menjadi alternatif penggerak ekonomi masyarakat, sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya bergantung pada sektor penangkapan ikan.

“Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat,” kata Andi Akmal.

Pemkab Bone, lanjutnya, akan melihat lebih serius peluang pengembangan kawasan mangrove di Desa Angkue. Bahkan, rintisan pengembangan wisata mangrove diharapkan mulai didorong pada tahun mendatang melalui dukungan pemerintah daerah.

Baca Juga:  Kasat Lantas Polres Bone Hadiri Asistensi Bareskrim Polri Terkait Indeks Penegakan Hukum

“Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone,” ujarnya.

Festival yang diselenggarakan Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara Periode 2025–2026 ini mengangkat tema “Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone.”

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali seni, tradisi, sejarah dan pengetahuan lokal masyarakat pesisir, khususnya potensi sejarah dan budaya Lampu’ Toae di wilayah Kajuara.

Andi Akmal mengapresiasi pelaksanaan festival yang memadukan unsur budaya, maritim, lingkungan dan semangat kebangsaan. Menurutnya, budaya merupakan bagian penting dari identitas daerah yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan.

“Budaya dan lingkungan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dukung agar nilai-nilai budaya tetap hidup sekaligus kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ketua PSBB Bone Sangdara, Wiwin Wahyuni, S.Tr.AB., mengatakan kegiatan tersebut terlaksana melalui fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.

Baca Juga:  Pemerintah Kabupaten Bone Pacu Digitalisasi Daerah dan Optimalkan PAD 2026

Ia menjelaskan, pemilihan Lampu’ Toae sebagai lokasi festival merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan sejarah dan budaya yang terdapat di wilayah Kajuara.

“Harapannya, generasi muda dapat mengenal dan ikut menjaga warisan budaya yang ada di daerahnya,” kata Wiwin.

Dukungan terhadap festival juga datang dari Yayasan Lontara Hijau melalui penyediaan 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekosistem pesisir Desa Angkue.

Perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Iswadi, S.S., M.A., mengatakan pihaknya terus membangun kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bone, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, komunitas budaya dan berbagai pihak dalam mendukung pemajuan kebudayaan.

Dalam rangkaian kegiatan, Wakil Bupati Bone turut menyerahkan bibit mangrove secara simbolis. Masyarakat juga membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter sebagai simbol semangat kebangsaan dan persatuan dalam menjaga budaya, lingkungan dan daerah.

Baca Juga:  Antrean Solar Subsidi di Watampone Picu Kecurigaan, Diduga Ada Modus Pelangsiran

Andi Akmal selanjutnya mendorong agar festival budaya dan pariwisata seperti Lampu’ Toae dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Ia menilai keberlanjutan kegiatan penting agar festival tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu memberikan dampak terhadap pelestarian budaya, pengembangan wisata dan ekonomi masyarakat.

“Festival seperti ini harus terus kita dorong. Kolaborasi pemerintah, komunitas budaya, masyarakat, dunia pendidikan dan generasi muda perlu diperkuat agar potensi yang ada bisa dikelola secara berkelanjutan,” tuturnya.

Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Bone, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, unsur Tripika Kecamatan Kajuara, para camat, kepala desa dan lurah, kepala sekolah se-Kecamatan Kajuara, komunitas budaya, pemuda, pemerhati kebudayaan serta masyarakat.

Melalui festival ini, Desa Angkue diharapkan tidak hanya semakin dikenal sebagai kawasan pesisir, tetapi juga mampu mengembangkan potensi budaya dan lingkungan sebagai bagian dari destinasi wisata serta penggerak ekonomi masyarakat Bone Selatan. (BM)*.

Pos terkait