Sumpah Pemuda: Menuntut Generasi Emas Adakah Teladan Untuk Generasi Muda

Oleh Darwis Tahang,SH.,MH.,MM
Akademis dan Praktisi

Bagian Pertama:
Refleksi kritis Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.
INFO-JURNAL.COM- Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda dengan upacara, pidato, dan seruan tentang pentingnya peran generasi muda bagi masa depan bangsa. Kita menyebut pemuda sebagai harapan bangsa, bahkan sebagai generasi emas yang kelak membawa Indonesia menuju kejayaan. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan, sudahkah kita membangun nilai, keteladanan, dan lingkungan yang memungkinkan generasi emas itu bertumbuh?

Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar peristiwa sejarah yang diwariskan untuk dikenang. Ikrar itu lahir dari keberanian melampaui sekat kedaerahan demi tujuan yang lebih besar: Indonesia yang satu.
Karena itu, memperingatinya semestinya bukan hanya mengulang kalimat persatuan, melainkan menguji sejauh mana semangat tersebut benar-benar hidup dalam perilaku kita hari ini. Sebab, bangsa tidak menjadi besar hanya karena memiliki banyak anak muda. Bangsa menjadi besar ketika generasi mudanya tumbuh dengan karakter kuat, pikiran terbuka, integritas, dan keberanian memperjuangkan kebenaran.

Khalayak sering mengidentikkan kemudaan dengan usia. Padahal, pemuda juga berkaitan dengan cara berpikir: kesediaan menerima perubahan, keberanian menguji kebiasaan yang keliru, kemampuan menghargai perbedaan, dan kemauan memberikan ruang kepada orang yang layak berdasarkan kemampuan serta integritasnya.

Usia boleh muda, tetapi cara berpikir bisa saja terbelenggu oleh pola lama. Sebaliknya, seseorang yang lebih tua tetap dapat berpikiran maju ketika terbuka terhadap gagasan baru, bersedia dikoreksi, dan tidak merasa terancam oleh perubahan. Karena itu, yang perlu kita kritik bukan usia seseorang, melainkan pola pikir yang menolak pembaruan, memelihara ketidakadilan, meremehkan perbedaan, atau mempertahankan kebiasaan hanya karena sudah berlangsung lama.

Baca Juga:  Kadis Kominfo Bone: Media Mitra Strategis Pemerintah Dukung Swasembada Pangan

Dalam kehidupan kita hari ini, tantangan tersebut terasa ketika kesempatan tidak selalu diberikan kepada mereka yang paling mampu, ketika kedekatan lebih menentukan daripada kompetensi, atau ketika kritik dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika pola seperti ini terus dipelihara, bagaimana kita bisa berharap lahir generasi yang unggul dan berani membawa perubahan?

umumnya tidak cukup hanya meminta anak muda berpikir maju. tetapi juga harus berani memeriksa apakah keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, tempat kerja, dan institusi publik benar-benar memberi ruang bagi pemikiran maju itu untuk tumbuh.

Salah satu persoalan mendasar dalam pembentukan karakter adalah jarak antara pengetahuan moral dan tindakan nyata. Kita dapat mengetahui bahwa kejujuran itu penting, memahami bahwa kecurangan itu salah, dan fasih berbicara tentang tanggung jawab. Namun, pengetahuan tersebut kehilangan makna ketika tidak tercermin dalam perilaku.

Selalu mengajarkan kejujuran kepada anak, tetapi apakah mereka selalu melihat kejujuran dipraktikkan oleh orang yang ada disekelilingnya? Kita meminta mereka disiplin, tetapi apakah kita sendiri menghargai aturan? selalu mengajarkan keadilan, tetapi bagaimana mereka memahami keadilan jika dalam kehidupan sehari-hari mereka menyaksikan perlakuan berbeda berdasarkan kedekatan, kedudukan, atau kepentingan.

Baca Juga:  Bupati Andi Asman Sulaiman Lantik Pj Sekda Bone, Tegaskan Komitmen Penguatan Tata Kelola Pemerintahan

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tuduhan bahwa semua orang telah kehilangan nilai moral. Ini adalah ajakan untuk bercermin. Sebab, perilaku manusia dibentuk bukan hanya oleh apa yang didengarnya, melainkan juga oleh apa yang dilihat, dialami, dan dianggap wajar di lingkungannya.

Di sinilah integritas menjadi sangat penting. Integritas bukan sekadar kemampuan membedakan benar dan salah. Integritas adalah keselarasan antara nilai yang diyakini, perkataan yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan termasuk ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Jika seseorang mengetahui yang benar tetapi sengaja memilih yang salah demi keuntungan pribadi, persoalannya bukan lagi semata-mata kurangnya pengetahuan. Ada persoalan komitmen, keteladanan, dan tanggung jawab yang perlu diselesaikan. Lebih jauh, kita harus berhati-hati agar tidak hanya menuntut integritas dari individu, sementara sistem di sekelilingnya justru memberi keuntungan kepada perilaku yang tidak berintegritas. Kejujuran perlu ditanamkan sebagai nilai pribadi, tetapi juga harus dilindungi oleh aturan yang adil, transparansi, dan pertanggungjawaban yang berlaku bagi siapa pun.

Baca Juga:  Bupati Bone Andi Asman Didampingi Kasatpol PP Serahkan Bantuan Rp165 Juta kepada 13 Korban Kebakaran

Sering berharap generasi muda menjadi lebih baik daripada generasi sebelumnya. Harapan itu wajar. Namun, harapan akan menjadi tuntutan yang tidak adil jika orang dewasa tidak bersedia mengevaluasi dirinya sendiri. Ada ungkapan yang sering kita dengar: didiklah anakmu 25 tahun sebelum kelahirannya. Ungkapan ini bukan rumus ilmiah tentang waktu pendidikan anak, melainkan pengingat moral bahwa pembentukan generasi berikutnya dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan yakni dari karakter, kebiasaan, dan nilai yang dibangun oleh orang Tuanya
Anak-anak tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka menyerap perilaku keluarga, belajar dari guru, dipengaruhi lingkungan pergaulan, dan mengamati cara para pemimpin menggunakan kewenangannya. Apa yang berulang kali mereka lihat dapat membentuk pemahaman tentang perilaku yang dianggap normal.

Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada nasihat, slogan, mata pelajaran, atau kegiatan seremonial. Nilai-nilai harus hadir dalam tindakan nyata. Kejujuran perlu dicontohkan. Keadilan perlu dirasakan. Perbedaan perlu dihormati. Tanggung jawab perlu ditunjukkan, terutama oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh.

Inilah yang dimaksud membangun dari hulu. Sebelum bertanya mengapa generasi muda berperilaku demikian, kita perlu memeriksa nilai apa yang mereka terima, teladan apa yang mereka saksikan, dan lingkungan seperti apa yang kita sediakan bagi mereka.(BM)*.

Pos terkait